Pages

Selasa, 05 Juli 2011

Behind The Scene Membuat Film Mini


Ketika Hair Stylist Membuat Film Mini
By OmBastian
        Awalnya saya menonton film fiksi berjudul “Penglihatan Terakhir”. Ini film pendek bagus sekali. Saya begitu terkesan, ceritanya, akting pemainnya, lokasinya, musiknya, sungguh saya takjub. Saya tonton berulang-ulang dan hmm… Saya cari blog-nya. Saya terheran-heran, masa sih bikinnya pake HP Nokia ? Yang bener aje…!
Hari berikutnya sayapun mulai mengkhayal..andaikan saya bikin film pendek dengan suasana Timur Tengah…lucu juga kali ya ! Ada gurun, rumah-rumah khas Arab, gamis, sorban, pohon korma dan lain sebagainya. Ah, ngoceh aja di twitter! Siapa tahu  ada yang respon dan benar saja! Adalah Bambang ( @Bemz_Q ) sahabat twitter yang mula-mula me-RT keinginan saya dengan meneruskannya buat @dikiumbara. Pun Diki menyambut baik keinginan saya dengan memberi semangat. Jadilah hari itu saya sibuk mencari cerita fiksi yang di RT @fiksimini yang cocok dengan ide saya. Dengan mengetik kata kunci “sorban” spasi @fiksimini. Ada satu dan satu-satunya result yang muncul judulnya “Tak Bisa Kutahan”. Dibaca cerita mini nya. Wah cocok..cocok..! Lalu FM ini siapa yang punya..? APAHHH !!!! @dedirahyudi! Ini kan aktor fiksimini film! Oooohhhh… ! Sayapun mengadu kepada @harigelita yang sebelumnya gak yakin saya mau bikin film fiksimini. Malah menganjurkan untuk membuat film fiksi di Indonesia saja ketika saya holiday. Saya mulai merayu Dian agar bersedia membuat naskah cerita. Uuh… merayunya dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, separuh nikmat, separuh laknat! Oh apa ini? Gayung bersambut, air sebaskom diciduk. Dian bersedia membuat naskah cerita. Hebat sekali Dian! Hari itu juga cerita sudah jadi dengan judul “Pria Bersorban”. Ceritanya bagus! Sungguh beliau seorang fiksiminier yang penuh talenta. Dan cerita mininya sila liat di http://koprolkata.wordpress.com/2011/01/17/pria-bersorban/
Cerita fiksi sudah ditangan, naskah cerita sudah digenggam lalu bakal aktornya kapan dipeluk? Aahhh teman-teman TKI seabreg! Om tenang aje. Sebelum memulai mencari aktor Om persiapkan dulu peralatan. Kamera digital merk Canon seri Ixus 100is cukup bisa diandalkan video record-nya HD, tripod, property busana dan make-up untuk para aktor, rancangan adegan sampai penentuan lokasi shooting siap, barulah pencarian aktor dimulai.
Om undang 10 orang untuk datang ke flat tempat Om tinggal dengan iming-iming masakan Indonesia. Wooow… tentu saja mereka mau dating. Mereka gak tahu kalo ada udang di balik batu, ada cicak d ibalik pintu, ada kutu di balik buku (ih…apalagi ini?!) Kelar menyantap kemudian Om ungkapkan keinginan Ommencari aktor buat proyek bikin film mini dan muka mereka langsung kusut. Rasa kenyang mereka tetiba hilang. Kembali lapar melihat sorban yang Omgunakan buat audisi #cieeee…  Thanks God, teman-teman menyambut gembira. Satu-persatu Ompasang sorban di kepala mereka. Mencari sosok yang pas buat memerankan si Pria Bersorban. Hasilnya…aduh sayang ya! Muka Asia Tenggara kalau dipasang sorban kok gak pas..gak okeh gitu! Beda kalo dipakein peci langsung deh minta dipanggilin penghulu saking cucoknya..!
Malam itu tidak Omdapatkan calon aktor pria bersorban tapi om gak kecewa. Justru Om dapat bakal calon untuk memerankan Ali bin Mahmud. Keesokan harinya Om kadatangan tamu, sahabat lama yang bekerja sebagai perawat di sebuah hospital terkenal di kotaRiyadh, Herry As. tanpa ba bi bu..Omlangsung pasangin sorban dikepalanya. Setelah dilihat, diraba, diterawang..eh cocok..cocok bo! Ompun gembira kegirangan. Seketika menjerit histeris membuat tetangga flat cemas ketakutan dan kemudian berhamburan keluar memohon pertolongan.. (ya ampun bo’ong banget !) Herry yang tak lain adalah kakak kandung Epay Jonathan si pemeran Ali bin Mahmud. Jadi mereka kakak-beradik dan sama-sama  perawat. Kompak bener! Baru tahu kan?!
Tanggal 28 januari 2011, pengambilan gambar pertama dimulai. Dengan menyewa mobil off road kami menuju ke lokasi. Sebuah gurun di luar kotaRiyadhkira-kira 150 km. Kawasan Gurun al-Thomama, cukup aman gak banyak patroli. Shoting pertama sukses. Kendalanya adalah baik aktor maupun sutradara semuanya kerja yang hanya punya waktu luang di hari libur mingguan yang di saudi arabiajatuh pada hari jumat. Jadilah shotingnya berlambat ria  dilakukan seminggu sekali. Belum lagi kalau ada acara tertentu. Shotingpun diundur.
Yang menarik ketika shoting di gudang karpet berikut pasar. Nyaris gagal! Gak banyak muka Asia Tenggara berkeliaran di situ. Kami jadi pusat perhatian. Ketatnya peraturan di Saudi yang tidak boleh jeprat-jepret sembarangan bikin kami ketar-ketir. Kami mulai pasang trik. Kami berlagak main-main seolah-olah habis beli kamera baru. Jajal demo istilahnya. Berhasil! Tak jauh dari situ ada musium Al-Masmak (gedung yang terlihat di film mini Pria Bersorban). Gedung ini tak lain dulunya adalah istana raja pertama Raja Saudi Arabia King Abdul Aziz. Lengkapnya bisa dibaca disini http://en.wikipedia.org/wiki/Masmak_fort Nah, lokasi yang bagus di luar scenario. Jika di Indonesia ada candi Borobudur yang hampir semua orang Indonesia tahu maka Kastil al-Masmak ini hampir dipastikan semua orang Saudi tahu gedung ini. Nilai sejarahnya, scape yang bagus untuk menambah kental suasana Timur-Tengah setelah gurun di film yang dibuat.    
Setelah semua selesai, proses editing dimulai. Namun ada satu hal yang membuat Omberpikir keras..musiknya! Meskipun peralatan musik khas arab seperti al-oud, rebab, rebana, marawis ada, tapi tak satupun diantara kami yang bisa memainkannya. Akhirnya Om mengambil musik yang sudah jadi dari para musisi Arab. Jatuh pada musisi yang juga penyanyi Arab kondang Mohammed Abdo. Ini artis paling beken seranah Arabia. Orang Timur Tengah mana yang tidak tahu musisi ini. Semacam Rhoma irama-nyalah kalo di kita. Kalau orang Saudi gak tahu Mohammed Abdo, ah… sungguh terlalu !!!
Pengalaman mengedit video pun Omgak terlalu bisa. Mengandalkan kemampuan seadanya, makanya banyak nanya sama momod film fiksimini. Dari komunikasi via email dengan momod film fiksimini, Ommulai percaya diri. Program Ulead Studio 11 dan Pinacle dikutak-katik. Hingga hasilnya mendapat komentar menyenangkan setelah ditonton bersama Dian, MakNyak dan Reni di warung MakNyak. Kekurangan di sana-sini membuat Om memohon kapada Reni untuk mengedit ulang hingga hasilnya benar-benar memuaskan.
Hasilnya tepat pada hari jumat 15 April 2011 film fiksimini muncul di Youtube. Hari itu Om syukuran kecil-kecilanan di flat di Riyadh. Mengundang sejumlah teman-teman, kami tonton bersama-sama sebelum acara makan-makan. Luar biasa kegembiraan kami hari itu! Tidak menyangka kami berhasil menyemarakkan film fiksimini, meskipun kami hanyalah TKI. Ternyata hari Jumat punya kesan tersendiri bagi Om. Ide membuat film itu pada hari jumat, semua pengambilan gambar dilakukan pada hari Jumat dan film itu pertama tayang di dunia maya pada hari Jumat.
@fiksimini: RT @dedirahyudi: TAK BISA KUTAHAN. Lantunan kata suci dr mulutmu menyayat hati. Kubebat sorban ini erat, menutupi tanduk yg mencuat. Panas.
Dan film “Pria Bersorban” karya Om Bastian ini sila liat di


Dibalik layar film fiksimini – Diam
Karya @vianANT


One run shoot adalah konsep teknis awal yang kami usung dalam film fiksimini kami kali ini yang berjudul “Diam”. Jadi dalam sepanjang film berdurasi 4 menit ini hanya ada satu shoot gambar dari rec-in sampai cut. Ini pengalaman pertama kami memproduksi film one run shot seperti ini. Dan untuk desain produksinya-pun kami belajar hanya berdasar logika dari hasil analisis kami terhadap film-film dengan konsep serupa yang sudah terlebuh dahulu diproduksi.
Dalam total 10 hari proses produksi kami kali ini, takaran dalam tiap-tiap pembabagan proses produksi agaknya menjadi kurang seimbang. Karena memang film ini sangat menghabiskan waktu lebih banyak untuk proses pra produski ketimbang produksi dan pasca produksinya. Sudah barang tentu, karena film ini hanya terdiri dari satu shoot saja, dan kami semua yang terlibat diproduksi ini harus ekstra konsentrasi untuk menjadikan satu shoot ini sempurna. Kesalahan sedikit saja di tengah atau bahkan di akhir shoot, kami harus mengulangnya dari awal. Oleh karena itu untuk persiapannya kami sangat hati-hati dan teliti agar hasil yang didapat sesuai dengan harapan kami.
Ini adalah film fiksimini kami yang kedua, setelah yang pertama adalah film fiksimini berjudul “Ternyata Masih Cinta”. Dan dibanding film kami yang pertama, waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi film ini jauh lebih banyak. Tak hanya itu, untuk jumlah tim yang terlibat, peralatan, anggaran, dan beberapa unsur produksi lainya juga jauh lebih banyak jika dibanding film sebelumnya.
Selain one run shot, inovasi untuk film fiksimini kami kali ini adalah menggabungkan filmini dan lagumini kedalam sebuah karya audio visual yang saling mendukung. Dan juga filmini dan lagumini ini juga berasal dari satu fiksimini yang sama yaitu:
@vianANT: DIAM. Mereka berdua hanya membisu saling tatap. Namun dilantai, bayangan mereka sudah saling akrab. @fiksimini
Untuk sektor film penggarapannya disutradarai oleh penulis sendiri, @vianANT. Sedangkan untuk lagumini dan sound director diserahkan kepada @AndilaRizky dan @FajarWR. Tergabung dalam fiksiminiers_Solo kamipun menggandeng beberapa production house di Solo untuk mendukung terwujudnya film ini. Dan rekan-rekan yang terlibat adalah Biru Music studio, DEVAvideography, Garasi Indie, Asa Studio, dan KineKlub FISIP UNS.
PRA PRODUKSI
Tahapan ini dimulai dengan pengujian terhadap fiksimini yang akan diproduksi bahwa memang bisa direalisasikan menjadi disebuah film fiksimini. Setelah dianggap layak produksi, astrada @adeemas mulai melakukan seleksi pemain dalam film ini. Karakter yang dicari adalah pribadi yang bisa berubah karakter fisik dengan mudah dan cepat. Alhasil dipilihlah @galafauzi sebagai pemeran laki-laki dan @odiliafristy (yang juga salah satu pemeran film pertama kami) sebagai pemeran wanitanya.
Tahapan selanjudnya kami lakukan malamnya. Kami berkumpul di coffee shop ber-empat untuk melakukan pematangan konsep produksi yang kemudian disusul dengan perencanaan alur and timing adegan. Setelah semua konsep dasar dan alur mulai dipahami dengan matang, kami mulai menghubungi @AndilaRizky untuk mendiskusikan masalah lagumini untuk film ini.
PRODUKSI LAGUMINI
Untuk lagumini, @AndilaRisky mengajak @FajarWR untuk memproduksi lagu tersebut. Seluruh konsep lagu mulai ilustrasi musik sampai liriknya diproduksi hanya dalam waktu satu hari satu malam karena kami mengejar lagu tersebut harus segera selesai untuk kami jadikan sebagai guide kami melakukan latihan dan tata letak pemain dan kamera. Keseluruhan materi lagu diprduksi di Biru Music Studio.
READING DAN BLOCKING
Ini adalah salah satu bagian berat dalam persiapan produksi ini. Karena untuk blocking kami harus sangat detail dan tepat sesuai dengan waktu yang telah tersusun dalam lagu. Lagumini ini nantinya akan seolah-olah dinyanyikan secara live di dalam salah satu adegan film, oleh karena itu kami pun harus sangat tepat dan akurat dalam blocking agar waktunya pun tepat ketika audio dan visual kami padukan di pasca produksi.
Selain itu acting dari sang artis dalam film ini cukup berat. Mereka harus mampu berubah-ubah karekter dengan cepat dan tepat. Maka dari itu dalam tahapan reading kamipun sangat serius untuk mendalami peran tersebut. Ditambah lagi dalam produksi ini sutradara nantinya akan merangkap sebagai cameraman, jadi untuk urusan acting semua digodog waktu reading dan ketika produksi semua di pasrahkan kepada sang artis.
LATIHAN
Ya tepat! Kunci dari one rune shoot adalah latihan. Semakin banyak latihan maka akan semakin mudah nantinya proses produksi ini. Semakin tepat timing tiap adegan, semakin lihai para pemain dan juga kru dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Dalam kelesuruhan proses pra produksi film ini, kami hanya sempat melakukan latihan 3kali sebelum hari-H produksi, karena mengingat kesibukan kami masing-masing. Dan bahkan dari tiga kali latihan tersebut kami hanya berhasil membuat 1kali hasil latihan yang full seperti yang kami harapkan. Sungguh membuat hati tak tenang ketika mejelang hari produksi. Kami hanya mempunyai kesempatan 5jam untuk produksi (keterbatasan sewa jenset dan lokasi) padahal dari 10 jam waktu latihan sebelumnya kami hanya berhasil membuat 1 shot rangkaian adegan penuh. Dan masih ditambah lagi kami pun belum pernah mencoba melakukan latihan dengan menggunakan musik guide seperti yang kami rencanakan sebelumnya.
PRODUKSI ( video BTS bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=i-bXboPXT4Y )
Dan tibalah hari paling mendebarkan. Yah, tahapan produksi. Kami memulainya dari pagi mulai dari mencari kru tambahan, figuran, dan property. Setelah itu kami masi disibukkan dengan pengangkutan property berupa piano yang cukup menyita tenaga kami sebelum shooting. Seluruh kru dan pemain seharusnya sudah di lokasi sejak pukul 5 sore, namun perencanaan tersebut gagal dikarenakan hujan deras di wilayah solo waktu itu. Begitu juga jenset yang gagal datang tepat waktu dikarenakan alasan yang sama. Jadwal yang seharusnya kami mulai pukul 18.30WIB, baru dapat terealisasikan pukul 20.00WIB. Situasi ini membuat adrenalin para pemain dan kru semakin tertantang.
Kami melakukan take sebanyak 6kali dan hanya 2kali yang berhasil. Dari 2 shoot yang berhasil selesai sampai akhir, kemudian dipilih 1 shoot terbaik. “Dan inilah 4menit terlama dalam hidupku”, keluh lega salah seorang kru kami.
SOUND RECORDING
Hasil draft video dan lagumini digabungkan, kami jadikan video guide untuk tahapan selanjutnya, yaitu merekam suara. Suara yang kami rekam ada dua, yaitu suara monolog dan audio dubbing. Teknik dubbing kami lakukan karena terdapat kesalahan teknis dalam rekaman suara yang membuat semua audio waktu produksi tidak bisa terekam dengan bersih. Yang bertanggung jawab dalam tahapan ini (rekam monolog dan dubbing) adalah sound director @AndilaRisky yang sudah cukup professional dalam bidang rekam-merekam suara dan dia sendiri memang sudah berpengalaman sebagai soundman tetap di Biru Music Studio.
EDITING FINAL
Setelah semua materi mentah siap diolah, sampailah kami pada tahapan final. Merangkai semua bahan menjadi satu kesatuan. Kami menggunakan Adobe Premiere Pro Cs 3 untuk composting dan Red Giant Magig Bullet Looks untuk coloring video hasil jadinya. Hambatan paling berat memang ketidak sesuaian audio rekaman lagumini dengan timing adegan video. Jadi mau tak mau untuk kesempurnaan, @AndilaRizky memutuskan untuk kembali mengolah ulang audio lagumini agar sesuai dengan videonya.
Demikian catatan produksi dari kami. Sungguh memang nampak terlihat rumit produksi ini, namun entah kenapa kami mulai kecanduan. Kecanduan dengan tantangannya, kecanduan dengan pengalamannya, kecanduan dengan kebersamaanya, dan yang jelas kecanduan untuk terus berkarya. Karena candu itu yang mebuat kami menikmati proses produksi ini dan sungguh membuat produksi ini begitu kami rindukan masa-masanya. Jadi tunggu saja film fiksimini kami yang ketiga.  Salam.

DI BALIK LEMBARAN HINA.
By: M. Syarif M.
Jika satu paket aktifitas stop motion (bungkuk-tata benda-tegak-shoot kamera) menghabiskan 1 kalori, maka paling tidak pembuatan film pendek LEMBARAN HINA membakar 312 kalori. Inilah pembuatan film yang paling menyehatkan bagi directornya @msyarifm.
Sejumlah 312 foto yang diperlukan untuk membuat film pendek berdurasi 1 menit 47 detik ini. Bercerita leksikal sesuai dengan bunyi tweet fiksimininya:
RT @msyarifm: LEMBARAN HINA. Kertas mengejar pena. “Nodai aku…”
Sepanjang film anda akan melihat adegan kertas yang mengejar-ngejar pena untuk ‘dinodai’. Yup, betul, hanya ada kertas dan pena, serta beberapa pemeran pembantu seperti sepaket pensil warna dan serutan pensil.

Pembuatannya sangat sederhana. Kami bahkan tidak menggunakan kamera video. Di sini kami hanya memerlukan kamera Canon 1000D milik kami beserta tripodnya, untuk mengambil gambar-gambar adegan yang telah kami tata. Satu shoot gambar untuk satu perubahan tata adegan benda. Begitu seterusnya hingga cerita berakhir (lebih tepatnya ketika kami sudah lelah :p).
Berbicara sedikit teknis, film ini kami kerjakan dengan 2 aplikasi khusus, yakni Luciole, untuk menyatukan banyak gambar menjadi gerak animasi, serta Openshot untuk final editing seperti mixing suara backsound, timing, tema, dan inserting beberapa atribut tertentu. Kedua aplikasi tersebut mudah dan dapat anda gunakan secara bebas pada distro-distro Linux.
Oke. Demikianlah. Semuanya sederhana. Apalagi yang kau tunggu, buat film mini mu! :)

“Ternyata Masih Cinta”

February 23, 2011
by filmfiksimini
#filmini, dari fiksimini, diproduksi dengan tim mini, dan waktu pembuatan yang juga mini, serba mini. Film ini sangat sederhana dalam proses pembuatannya, tetapi sang filmmaker, Novian Anata Putra yang sering dipanggil Vian oleh teman-temannya itu (@vianANT), tidak menyederhanakan tahapan produksi film yang ada.
Produksi #filmini ini tetap terdiri dari 3 tahapan dasar seperti film2 lainnya yaitu pra produksi, produksi dan pascaproduksi. Namun bedanya adalah sederhananya semua tahapan-tahapan  yang ada. Praproduksi film ini cuma menghabiskan waktu 3 jam dengan hasil 2 lembar storyboard. Shooting 5 jam dengan 1 orang filmmaker, 2 artis dan 1 orang BehindTheScene Videographer. Kemudian di lanjut editing yang memakan waktu sekitar 4jam. Yang paling lama UPLOADnya 7JAM(VersiHD) :( *dasarinternetlemot!
@viannitta TERNYATA MASIH CINTA, cincin yang hilang dari jarinya ternyata ditelannya, biar masuk abadi di dlm hatinya walau jarak memisahkan @fiksimini
PRA PRODUKSI.
Yah tepat, keberhasilan blog filmfiksimini ini dalam menantang Vian untuk bisa bergabung didalamnya adalah awal mula terciptanya #filmini ini. Yah memang sang filmmaker masih pemula sebagai fiksiminiers. Baru sekitar sebulan sebelum produksi #filmini ini dia baru bergabung aktif menulis fiksimini.
Siang itu setelah menulis fiksimini dengan tema JARAK, Vian mulai berfikir bahwa salah satu fiksimini yang barusan ia tulis bisa direalisasikan menjadi #filmini. Yah tentunya ada kriteria mana fiksimini yang bisa di-film-kan mana yang tidak bisa. Dan dimata sang filmmaker, yang sehari2nya hanya berprofesi sebagai freelance videographer dengan penghasilan yang sangat tidak menentu, intinya fiksimini itu harus bisa diralisasikan menjadi #filmini “dengan tanpa biaya sepeser-pun namun tetap bagus hasilnya”. *Baladafilmakermiskin
Terlintas di imajinasi sang filmmaker, film ini bisa diproduksinya seorang diri, hanya membutuhkan siapa yang akan menjadi pemerannya. Dengan patokan tanpa biaya, Vian yang alumni mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS Solo, langsung menghubungi teman-teman waktu kuliahnya dulu yang sebagian besar memang banci kamera. Adimas Maditra Permana (Dee)(@adeemas) dan Odilia Fristy (Odilia/Odi) (@odiliafristy) setuju untuk bergabung dalam proyek #filmini ini.
Malamnya mereka mulai berkumpul di sebuah coffeeshop didaerah SoloBaru, Solo. Vian mulai menjelaskan tentang fiksimini. Dee dan Odilia cukup tertarik juga setelah kenal dengan konsep fiksimini. Setelah Dee dan Odi mengerti apa itu fiksimini, Vian mulai menjelaskan konsepnya tentang film tersebut. Setelah konsep sudah dijelaskan, ada hal yang mengejutkan karena film tersebut akan diproduksi keesokan harinya. Akhirnya malam itu kami mulai menyiapkan perlengkapan shoting, mulai dari lokasi shoting, wardrobe, property sampai story board. Hasil utama dari tahapan ini adalah dua lembar story board dengan 18 gambar dalam 2 setting, taman dan kamar. Karena filmmaker nantinya akan bekerja seorang diri dibelakang kamera, jadi semua rincian shot untuk besok harus sudah detail, rinci dan jelas. Jadi produksi ini intinya tidak terlalu banyak waktu karena Vian sebagai penulis sekaligus sutradara dan videografer sudah mengetahui konsep dasarnya, dan Dee dan Odi melengapi dengan memberi beberapa masukan agar produksi lebih sempurna. Malam itu di akhiri dengan penentuan jam produksi keesokan harinya, jam 6 pagi.
PRODUKSI (Video dibalik layar produksi ada di http://www.youtube.com/watch?v=ddXBt3aqFoY
Keesokan harinya tepat pukul 6 pagi, kami bertemu di rumah Odi dan segera berangkat menuju lokasi pertama yaitu Taman Balekambang, Solo. Di Taman Balekambang satu teman kami Dymas Dwi S (dimas) sudah menunggu untuk membantu mendokumentasikan semua proses produksi kita.
Berbekal alat sederhana shoting dimulai. Dalam semua scene, tantangan terberatnya adalah adegan menangis. Odi diharuskan bisa menangis dan Dee harus bisa menjadi lawan main yang mampu membuat Odi menangis. Proses reading yang singkat cukup membuat scene ini bertambah berat. Awalnya mereka masih sering tertawa satu sama lain karena merasa konyol. Tapi pada saat beberapa shot berikutnya mereka mulai serius dan mendalami peran satu sama lain. Vian ikut membantu suasana dengan memberikan kata–kata yang menggambarkan suasana yang sedang pemain hadapi dari peran tersebut. Beberapa saat kemudian Odi mulai menitikkan air matanya, bahkan Dee yang ikut mendalami karakternya untuk memancing Odi pun ikut berair matanya. Dan scene itu berhasil dengan memuaskan.
Di lokasi pertama, kami tidak terlalu lama karena telah sangat terbantu dari storyboard yang kami buat sebelumnya, walaupun ini produksi dadakan kami mengerjakan pra produksi dengan cukup rinci. Selain terbantu dengan storyboard, kami juga terbantu dari faktor cuaca dan kondisi lapangan yang tidak terlalu banyak gangguan dari pendatang taman Balekambang yang lain.
Segera setelah shoting di lokasi pertama selesai, kami segera bergegas ke lokasi kedua, yaitu rumah Odi. Di rumah Odi, kami memakai kamarnya untuk shoting. Tuntutan untuk kreatif harus kami lewati, karena memang produksi ini tidak berbudget, dan tidak terpkir untuk menyewa alat dan lampu. Pada waktu itu kita membutuhkan nuansa malam hari, padahal waktu itu masih siang hari. Akhirnya kita memakai alat sederhana berupa lampu nenon aquarium berwarna biru dan beberapa lampu bohlam kecil untuk membangun suasana malam. Dan sepertinya ide lide liar kami cukup bisa berhasil menggambarkan nuansa malam di kamar itu.
Di setting ke-2 ini cukup banyak adegan menangis. Namun semua begitu mudah karena seluruh pemain terutama Odilia sudah mendapatkan kunci untuk mejiwai karekternya. Di setting kamar ini gambar video behind the scene cukup sedikit, ini dikarenakan Dymas sang juru rekam dibalik layar juga terpaksa membantu tim untuk memegang urusan tata lampu. Semua tahapan produksi untuk 2 setting ini selesai kira-kira memakan waktu 5-6jam.
PASCA PRODUKSI
Usai produksi, semua materi mentah langsung diolah. Vian disini juga berperan sebagai editor tunggal. Tak ada yang special di tahapan ini. Semua materi mentah disusun sesuai storyboard, kemudian ditambahkan ilustrasi music. Ilustrasi music diunduh dari www.mobygratis.com, sebuah web berisi ratusan ilustrasi music yang berlisensi yang dapat diunduh secara geratis untuk keperluan pembuatan film non komersial. Setelah semua sudah tertata rapi di timeline, finishing dilakukan dengan video grading untuk menambah efek dramatis. Semua tahapan ini berlangsung malam harinya dan selesai di-upload versi HD-nya keesokan harinya.
Dari keseluruhan proses produksi ini, semua yang terlibat di film ini merasa puas dengan hasil produksi yang terbilang cukup kilat ini dan seluruh apresiasi yang datang dari para penikmat #filmini ini cukup bagus. “Menurut saya produksi ini penuh kejutan karena ternyata pra produksi satu malam ditambah dengan produksi setengah hari ternyata cukup memuaskan. Satu kejutan ditambahkan oleh Vian, editing dilakukannya malam itu juga, dan keesokan harinya dia sudah mengunggahnya di beberapa situs. Setelah melewati proses produksi saya pun ketagihan, dan segera ingin memproduksi film fiksimini yang lain.” Ujar Dee, pemain utama pria #filmini “Ternyata Masih Cinta” (Penulis: vian,dee)
Crew:
Produser, Ide, Sutradara, Sinematografer, n Editor: Novian Anata Putra (Vian)
Pematangan konsep n kreatif: Adimas Maditra Permana (Dee), Odilia Fristy (Odilia), Novian Anata Putra (Vian)
Cast: Adimas Maditra Permana (Dee), Odilia Fristy (Odilia)
BTS: Dymas Dwi S(Dimas)
Data teknis:
Shot w/ Canon 7D + Sigma 30mm f/1,4
Edit w/ Premiere CS3
Ilustrasi Musik : www.mobygratis.com
Grading : Magic Bullet Looks
Dan inilah film “Ternyata Masih Cinta”
Di Balik Layar Film “PIL”
by: M. Syarif Mansur
RT @msyarifm: Pasangan itu justru bercerai setelah berkonsultasi dg dokter. Sang istri mengikuti petunjuk dokter, dia mencari PIL.
Sinopsis
Film ini, bila berhasil mencapai sasaran, ‘seharusnya’ bergenre komedi. Berkisah tentang sepasang suami istri yang memiliki profesi karir masing-masing yang mengharuskan mereka untuk jarang bertemu satu sama lain. Pada film PIL ini, sang istri mempunyai porsi karir yang lebih, yang membuatnya jarang berada di rumah. Sang suami yang merasa kondisi rumah tangganya harus diselamatkan, berinisiatif untuk mengajak istrinya berkonsultasi ke dokter harmonisasi pasutri.
Mereka lalu mendapat petunjuk dan resep dari dokter. Malang bagi sang suami, sang istri menerjemahkan PIL dalam terminologi yang lain, Pria Idaman Lain.
Behind the scene.
Film ini boleh dikata dapat menjadi pendefinisian arti dari sebuah film mini. Tidak hanya dari durasi pemutarannya yang mini, namun juga dari segi jumlah kru dan biaya.
Film ini dikerjakan secara solo oleh penulis, mulai dari pemilihan twit fiksimini milik penulis, pengembangan ide cerita, sutradara, aktor, cameraman, hingga digital editor dikerjakan sendiri oleh penulis, Syarif (@msyarifm). Karena keterbatasan itu, kami mengupayakan konsep sesederhana mungkin. Konsep sederhana inilah yang berhasil menekan biaya pembuatan hingga 0 rupiah (kecuali biaya listrik tentunya). Dalam pengerjaannya, kami menggunakan kamera DSLR Nikon D5000 pinjaman teman kami dengan tripod, beberapa atribut kertas dan pena, serta keset kaki yang akan kami jelaskan manfaatnya nanti.
Boleh percaya atau tidak, tapi kami hampir tidak menemukan kesulitan dalam proses pembuatannya. Bagian paling berkesan adalah adegan dimana sang suami menulis pesan untuk sang istri. Ada pengambilan gambar yang awalnya menyorot satu sisi meja lalu perlahan-lahan bergeser ke satu sisi meja lain, yang kemudian dilanjutkan adegan menulis. Kesulitan yang pertama adalah kami harus memastikan pergeseran itu berlangsung mulus sementara kami tidak mempunyai track rel untuk pergeserannya. Kami akhirnya menggunakan keset kasi untuk menopang kamera dan tripod di atasnya. Kamera bertripod ini lalu diseret perlahan hingga ke sisi meja tujuan. Kesulitan selanjutnya yaitu kami harus segera menampakkan tangan kami di layar kamera untuk adegan menulis tanpa harus menyentuh dan mengguncang kamera, maka harus dikerjakan dengan cepat, namun hati-hati. Dan yang tak kalah rumitnya bahwa adegan menulis itu harus dikerjakan secara live tanpa ada kesalahan menulis.
Jika ada yang bertanya program apa yang kami gunakan dalam digital editingnya, kami menggunakan aplikasi Openshot yang tersedia gratis dan legal di dalam distro operating system Ubuntu Linux. Software ini mudah digunakan dengan tutorial gratis yang sudah banyak ditayangkan di youtube. Hasilnya, menurut kami, tidak mengecewakan.
Film ini dikerjakan pada tanggal 15 Februari 2011, baik dari pengambilan gambar maupun editingnya. Diunggah keesokan harinya di youtube. Respon yang cukup menggembirakan kami dapatkan, khususnya dari rekan-rekan kami, Fiksimini Surabaya, dengan ijin representatifnya.
Never know untill we try, that making movie is… simple. Mari berkarya!

Dan inilah filmnya :

Yang Istimewa dari Film “Hari Istimewa”
Dani Kusuma & Diki Umbara

“Film itu seperti halnya hape, dia berfungsi sebagai alat komunikasi” demikian kata sutradara Rudy Soedjarwo. Sebagai alat komunikasi berarti dia harus menyampaikan pesan. Dan pesan itu bisa apa saja, untuk siapa saja, dengan cara apa saja, demikian juga dengan  film.

Menggarap film pendek memiliki keunikan sendiri, kebanyakan film pendek biasanya dilakukan secara independent. Demikian juga dengan film fiksimini, film yang ceritanya diambil dari cerita yang pernah “dikicaukan” di twitter. Tak mau ketinggalan dengan fiksiminier (sebutan bagi para penulis cerita fiksimini) dari kota lain seperti Jakarta, Surabaya, dan Jogyakarta. Fiksiminier Medan ingin membuktikan bahwa dengan segala keterbatasan, bisa juga membuat film fiksimini.
Ide Cerita
Seperti film fiksimini lain, kami hendak membuat film dari karya fiksimini yang sudah diretweet moderator. Dan terpilihlah karya fiksiminier Medan, Nuna  @no3na yakni :
HARI ISTIMEWA Ibu memandikan dan  mendandaniku cantik. Tidak ada tamparan, pukulan & bantingan. Ayah juga, ia menggalikan kubur untukku.
Fiksimini ini bercerita tentang seorang anak yang kerap menjadi sasaran tindak kekerasan kedua orangtuanya. Hidup yang pas-pasan tapi punya banyak keinginan membuat kedua orangtuanya bertemperamen tinggi. Kekerasan fisik bukan lagi hal yang tabu bagi keduanya, dan menjadi hal yang biasa diterima si anak. Tepat di hari ulang tahunnya, tubuh si anak tak lagi sanggup menanggung siksaan. Ia tewas dengan luka lebam di sekujur tubuhnya. Dan sebagai hadiah ulang tahun yang tak pernah diterima semasa hidupnya, ia mendapat perlakuan istimewa dari ibu dan ayahnya. Benar-benar hari yang istimewa.
Berembuklah kami, Danny Kusuma @Danny_Kusuma,  Wandy @popokman, Nuna  @no3na untuk membuat alur dari ide cerita tersebut. Setelah sepakat, kami menentukan schedule serta semua keperluan dalam pengambilan gambar.
Pengambilan gambar atau shooting film “Hari Istimewa” hanya satu hari saja. Dimulai jam 12 siang hingga jam 10 malam. Dan proses editing atau penyuntingan gambar dilakukan malam itu juga.

Sederhana
Pada film ini, tidak menggunakan perlatan yang canggih. Untuk pengambilan gambar menggunakan kamera handycam. Demikian dengan pencahayaan. Pencahayaan yang digunakan merupakan pencahayaan yang sudah ada atau available light.
Yang lumayan agak menyita waktu dalam pembuatan “Hari Istimewa” adalah tata rias yang dilakukan pada Ranie Tarigan, sebagai pemeran utama. Efek memar pada muka sebagai korban penyiksaan pukulan dikerjakan oleh Lya Kuntari.  Untuk efek darah segar yan mengucur dari hidung, menggunakan susu kental cokelat dicampur dengan pewarna makanan berwarna merah.
Lokasi shooting semuanya dilakukan di satu lokasi yakni di Jalan Gaperta gang Hikmah Medan. Setting yang digunakan adalah ruang televisi serta halaman rumah Dania.


Kendala
Waktu untuk pengambilan gambar tidak banyak, yang artinya persiapan property juga terbatas. Misalnya, cangkul yang tepat untuk gali kuburan sulit di dapat. Listrik padam, tentu saja ini menambah daftar kendala.
Dan cuaca Medan menjadi kendala lain lagi. Hujan yang mengguyur membuat pengambilan gambar harus terhenti. Karena lokasi di luar ruangan, shooting adegan kuburan baru bisa dilakukan setelah hujan reda. Setelah pengambilan gambar ini dilakukan, semenit kemudian hujan mengguyur deras. Besoknya dikabarkan Medan terkena banjir !

Paska Produksi
Kerja ekstra cepat agar “Hari Istimewa” bisa discreening di gathering  nasional fiksimini, maka malam itu juga proses editing dilakukan. Software editing menggunakan Ulead Video Editing. Software sederhana tapi hasilnya cukup memuaskan. Maka selesailah film fiksimini pertama karya fiksiminier Medan ini. Selamat menonton !


Hari Istimewa
Cast :
Ranie Tarigan @RanieTarigan sebagai anak
Liya Kuntari @kanikun sebagai Ibu
Faisal @lasiaf sebagai ayah
Crew :
Screenplay : Nuna @no3na
Director/Cameraman/Editor : Danny Kusuma @Danny_Kusuma
Asst. Director/Cameraman/Editor : Wandy @popokman
Penglihatan Terakhir, Film Fiksimini dengan Hape
Oleh Diki Umbara

Saat ini hampir dipastikan setiap orang memiliki handphone. Selain sebagai alat bantu komunikasi, handphone kini dilengkapi berbagai fitur pelengkap. Salah satu fitur yang sering digunakan adalah kamera. Sebagian besar orang menggunakan kamera handphone mungkin sekedar iseng, secara spontan merekam kejadian di sekitarnya. Tapi tahukah bahwa kamera handphone ini bisa digunakan untuk menggarap film secara serius dengan hasil yang maksimal?
Sebut saja film “The Commuter” sebuah film pendek dengan garapan sangat serius dari sutradara Inggris, McHenry Brothers. Bintangnyapun tak tanggung-tanggung, ada Dev Pate pemeran di Slumdog Millionaire dan bintang seksi Pamela Anderson. Silakan disimak filmnya di link berikut ini
Sebelum mendapatkan referensi film tadi, sudah lama penulis berniat untuk  membuat film pendek dengan kamera handphone. Ide pembuatannya sudah dituangkan penulis lewat micro blogging twitter @dikiumbara dengan serial kuliah twitter (kultwit) dengan hashtag #filmHP. Ide pembuatan film pendek pun disambut teman-teman komunitas fiksimini, yang secara nyata diwujudkan di akhir tahun 2010.
Melalui meeting pra produksi dipilihlah fiksimini karya fiksiminier Jakarta Pekik Indra. Inilah FMnya :

@_indrax: PENGLIHATAN TERAKHIR. Kini kutahu siapa pembunuh ibu. Saat kukenakan kacamatanya, kulihat sosok ayah memegang pisau.
Ini merupakan karya fiksimini Indra yang diretweet oleh moderator pada tanggal 27 November 2010. Untuk crew dipilih Oddie Frente (@Oddie__) sebagai produser, Muhammad Nugi (@nugiesque) sebagai sutradara dan penulis naskah, dan Anggun Adi (@goenrock) sebagai Director of Photography. Goenrock sebagai DOP memiliki handphone Nokia N8, handphone yang juga digunakan untuk pembuatan film The Commuter.
Setelah karya fiksimini tersebut dikembangkan menjadi naskah, dipilihlah 3 orang pemeran; ibu, bapak dan anak. Untuk pemeran ibu dipilih @windy_yw, pemeran bapak @dedirahyudi dan untuk pemeran anak dipilih @ifanhere. Namun karena Ifan berhalangan di hari pengambilan gambar, pemeran anak digantikan oleh @RadityaNugie.
Film fiksimini ini memanfaatkan 2 lokasi pengambilan gambar yaitu di pemakaman dan Warung Maknyak  di Jalan Angkur No.23 Kayu Putih, milik keluarga Mochtar Pabottingi. Dengan memanfaatkan sudut-sudut yang ada kami mulai melakukan persiapan shooting.
Wulan (@andaridwi) fiksiminier yang kebetulan berpengalaman dalam tata make up teater mulai bekerja merubah wajah windy_yw menjadi ibu-ibu paruh baya. Untuk memberi efek tua, Wulan memberi shading di bagian dahi dan kantung mata. Sementara untuk efek uban dipakai pasta gigi. Ya, pasta gigi! Selain mudah didapat, pasta gigi juga aman dan mudah dibersihkan dibanding menggunakan cat. Pasta gigi dioleskan secukupnya ke rambut, lalu disisir untuk memberi efek uban yang natural.
Wulan (@andaridwi) bekerja mendandani Windy (@windy_yw) disaksikan Nugi (@nugiesque) dan Adi (@goenrock)
Sementara di sudut lain Diki (@dikiumbara) mempersiapkan cairan darah. Bahannya adalah susu kental manis, pewarna makanan merah dan kopi. Karena yang diinginkan adalah darah yang keluar dari mayat yang ditemukan beberapa jam, maka susu tidak dicairkan lagi. Sedangkan kopi dipakai untuk memberi efek gumpalan darah. Semua bahan dimasukan botol lalu diaduk rata. Darah buatan dengan bahan yang mudah didapat relatif murah, dan pasti aman diaplikasikan.

Kesulitan dalam pengambilan gambar dengan handphone adalah meminimalkan gambar goyang akibat tangan yang yang tidak stabil. Untuk itu Adi (@goenrock) menggunakan tripod. Sedangkan untuk tracking shot (gambar dengan kamera bergerak) memanfaatkan mobil mainan.

Beda dengan film The Commuter yang memanfaatkan lighting lengkap dan property yang serius karena disponsori langsung oleh Nokia, maka untuk film fiksimini ini kami sengaja menggunakan budget yang sangat minimal. Crew dan talent terdiri dari fiksiminier. Peralatan dan property yang benar-benar memanfaatkan barang yang ada, dan tanpa lighting tambahan alias hanya dengan available light. Untuk property dan akomodasi kami memanfaatkan kebaikan hati Dian (@harigelita) yang merelakan sebagian property di Warung MakNyak untuk digunakan dan kacamata ibunya yang terpaksa dibanting berkali-kali. Walaupun begitu shooting tetap dikerjakan dengan hati dan semangat yang maksimal. Hasil sehari shooting itu selanjutnya diedit oleh Nugi (@nugisque) kemudian dicomposite oleh Adi (@goenrock) dan diberi backsound musik oleh Nugie (@RadityaNugie) di salah satu studio musik di Kemang.
Untuk pertama kalinya  film fiksimini “Penglihatan Terakhir” ditayangkan di Gathering Nasional Fiksimini, 8 Januari 2011 di Café Penus Taman Ismail Marjuki Cikini Jakarta.
Kalau kami bisa menghasilkan film dengan handphone, kalian pun bisa. Ayo bikin film dengan hape!