Pages

Jumat, 04 November 2011

Sinopsis, Naskah/Skript, Shooting Skript/Skenario

Oleh : Cepi Riyana
Penulisan Naskah Film dan Video
Penulisan naskah secara teoritis merupakan komponen dari pengembangan
media atau secara lebih praktis merupakan bagian dari serangkaian kegiatan
produksi media melalui tahap-tahap perencanaan dan desain pengem-
bangan, serta evaluasi.
Seperti halnya penulisan pada umumnya, penulisan untuk naskah film
maupun video ini juga dimulai dengan identifikasi topik atau gagasan. Dalam
pengembangan instruksional, topik maupun gagasan ini dirumuskan dalam
tujuan khusus kegiatan instruksional atau pembelajaran. Konsep gagasan,
topik, maupun tujuan yang khusus ini kemudian dikembangkan menjadi
naskah dan diproduksi menjadi program film atau video.
Dalam praktek, rangkaian kegiatan untuk mewujudkan gagasan menjadi
program film atau video ini secara bertahap dilakukan melalui pembuatan
sinopsis, treatment, storyboard atau perangkat gambar ceritera, skrip atau
naskah program dan skenario atau naskah produksi. Naskah merupakan
persyaratan yang harus ada untuk suatu program yang terkontrol isi dan
bentuk sajiannya (bandingkan dengan program 'live' yang diambil begitu saja
apa adanya meskipun dapat direka rambu-rambu pengendaliannya).
Bagi pembuat film dokumenter tentang alam atau kehidupan binatang seperti
yang sering kita lihat pada Discovery Chanel, perencanaan produksi berupa
naskah terkadang tidak perlu dibuat dari awal, namun sering terjadi naskah
dibuat setelah stock shoot diperoleh. Tidak demikian halnya untuk pembuatan
program video pembelajaran dan program film pada khususnya.
Dalam pembuatan film dan video pembelajaran posisi naskah sangat
diperlukan seperti pentingnya perencanaan mengajar (baca : satpel) dalam
kegiatan KBM. Artinya film pendidikan mengandung misi pendidikan dan
pembelajaran yang harus diukur tingkat keberhasilannya, oleh sebab itu
naskah mutlak diperlukan, disamping tahapan-tahapan lain dalam
keseluruhan kegiatan produksi video
Secara garis besar, terdapat tiga kegiatan utama dalam memproduksi
program video yaitu tahap pra produksi, produksi dan pasca produksi. Pra
produksi adalah kegiatan-kegiatan awal sebelum kegiatan inti berupa
pengambilan gambar dimulai. Meski demikian kegiatan pra produksi cukup
penting untuk dilakukan, sebab produk dari kegiatan pra produksi ini akan
menghasilkan naskah yang siap di produksi sebagai pedoman untuk semua
pihak, yaitu pemain, sutradara, editor, kameramen, pencatat adeganproduser dan kru lainnya yang terlibat dalam pembuatan film.

Gambar Tahap Kegiatan Produksi
Dalam Pra produksi, sebelum kegiatan penulisan naskah, dilakukan terlebih
dulu identifikasi program. Identifikasi program juga merupakan kelanjutan
dari beberapa analisa yang dilakukan terhadap kegiatan produksi video yaitu
: identifikasi kebutuhan, materi, situasi, penuangan gagasan dll. Isi dari
Identifikasi program meliputi :
1. Judul Program: berisi tentang judul/tema program yang dirumuskan
dengan kalimat yang singkat, padat, menarik.
2. Tujuan / Kompetensi : Dirumuskan dengan jelas, Pada rumusan tujuan
ini perlu dituliskan tujuan umum yang ingin dicapai oleh sasaran setelah
mengikuti program ini..
3. Pokok Bahasan : Penulisan pokok bahasan dilakukan terutama program
video yang dibuat berupa video pembelajaran (instructional video/film)
yang secara langsung mengacu pada kurikulum yang sudah ada. Jika
video yang dibuat adalah film pendidikan, penulisan pokok bahasan dapat
dituliskan atau tidak.
4. Sub Pokok Bahasan :Penulisan sub pokok bahasan ini juga dilakukan
terutama program video yang dibuat berupa video pembelajaran
(instructional video/film) yang secara langsung mengacu pada kurikulum
yang sudah ada,.
5. Sasaran : sasaran adalah “Target Audience” yang menjadi sasaran
utama program ini. Dalam penulisannya mesti dituliskan secara jelas
untuk siapa, misalnya untuk siswa SLTP, atau untuk Siswa Sekolah Dasar
atau untuk umum.
6. Tujuan Khusus/Indikator : Apabila program video yang dibuat diambil
dari kurikulum maka tujuan atau indikator yang diharapkan perlu dituliskan
secara jelas.
Dalam tulisan ini tidak akan diuraikan secara lengkap tahap produksi dan
pasca produksi, tetapi lebih terfokus pada kegiatan pra-produksi.
Secara terminologi istilah naskah sama artinya dengan skript dan skenario sama
dengan shooting skript.
1. Sinopsis.
Dalam praktek, sinopsis ini diperlukan untuk memberikan gambaran
secara ringkas dan padat tentang tema atau pokok materi yang akan
digarap. Tujuan utamanya adalah mempermudah pemesan menangkap
konsepnya, mempertimbangkan kesesuaian gagasan dengan tujuan yang
ingin di capai dan menentukan persetujuannya.
Dalam istilah yang lebih sederhana sinopsis dapat diartikan sebagai
ringkasan cerita. Konsep sinopsis juga sering digunakan untuk kegiatan
seni yang lain, misalnya dongeng, cerita bersambung, komik, pementasan
teater, novel, media audio, media slide dan sebagainya. Pada dasarnya
konsep sinopsis untuk film/video hampir sama dengan istilah siposis untuk
yang lainnya. Dalam penulisannya, tidak diuraikan dengan kalimat yang
panjang tetapi cukup beberapa kalimat saja, namun tercakup didalamnya :
tema, even dan alur yang dikemas dengan kalimat yang sederhana dan
mudah di pahami.
Contoh Sinopsis.
Contoh-1
"Episode menggambarkan suatu kecelakaan kapal 'Impian'. Dua orang,
seorang kakek dan cucu gadisnya, berhasil menyelamatkan diri ke pantai
pulau karang".
( Film : “Terdampar di Pulau Karang".)
Contoh-2
“Visualisasi video ini memperlihatkan proses pembuatan patung realistik
(patung kepala manusia) dengan teknik cetak ulang atau cor bagan
semen. Dimulai dengan pengenalan alat dan bahan, desain, pembuatan
model, pembuatan cetakan, pengecoran, penyempurnaan dan
penyelesaiaan akhir.
(film pembelajaran Judul : Patung realistik Dengan Bahan Semen)
Contoh-3
Film ini menggambarkan perjuangan seorang lelaki muda yang berusaha
bertahan hidup dan berusaha keluar dari sebuah pulau terpencil akibat
kecelakaan pesawat terbang, hingga akhirnya dia selamat.
(film Layar Lebar “Case Away”).
2. Treatment.
Agak berbeda dengan sinopsis, treatment mencoba memberikan uraian
ringkas secara deskriptif (bukan tematis) tentang bagaimana suatu
episode ceritera atau rangkaian peristiwa pembelajaran (instructional
event) nantinya akan digarap. Kalau pada sinopsis penulisannya dibuat
sedemikian singkat, akan tetapi dalam treatment semua alur cerita yang
akan ada dalam video tersebut diuraikan dari awal kemunculan gambar
sampai program berakhir diuraikan secara deskriptif. Secara sederhana,
penulisan treatmen sama dengan kita menceritakan kembali pengalaman
menonton film kepada orang lain, dimana kita bercerita bagaimana
kronologis jalan cerita film tersebut. Namun demikian dalam pembuatan
storyboard belum menggunakan istilah-istilah teknis dalam teknik video,
penggunaan istilah teknis baru dilakukan pada pembuatan shooting skript.
Sebagai ilustrasi pembanding, di bawah ini akan anda lihat suatu tratment
yang dikembangkan dengan tema yang sama.yaitu "'Terdampar di Pulau
Karang".
Contoh Treatment
"Ceritera diawali dengan fajar menyingsing di ufuk timur sebuah pulau
karang yang, sepi dan gersang. Di kejauhan masih nampak samar-samar
bangkai, kapal "Impian" yang terdampar. Dua Bosak tubuh kelihatan
bergelantungan pada sebilah papan yang terapung-apung tidak jauh dari
temp at kejadian. Dengan susah payah mereka, mulai berenang-renang
menempuh gelombang dan berjalan tersuruk-suruk menuju pantai pulau
karang yang gersang diiringi gemericiknya riak gelombang air laut yang
kini telah mulai reda, dan seterusnya".
Contoh Storyboard pembelajaran :
Judul : Patung Realistik Dengan Bahan Semen
Visualisasi diawali dengan penayangan judul program, kemudian tampak
ruang studio patung yang memperlihatkan berbagai jenis patung, khusus
pada patung yang dibuat dari bahan semen ditayangkan lebih lama.
Setelah itu, tayangan berganti pada alat-alat dan bahan-bahan yang ada
disekitar studio, ditata dengan rapi di atas meja peraga. Berikutnya kata
pengantar disampaikan oleh presenter pengetahuan dasare-dasar
mematung dan langkah-langkah mematung. Visualisasi berikutnya
sebagai kegiatan ini ditayangkan peragaan oleh presenter tentang cetak
ulang atau teknik cor. Kegiatan ini ini diawali dengan kegiatan desain,
pembuatan model, cetakan, pengecoran, hingga penyempurnaan dan
Rangkaian kejadian seperti dilukiskan dalam treatment tersebut kemudian
divisualkan dalam perangkat gambar atau sketsa sederhana pacta kartu
berukuran lebih kurang 8 x 12 em. Tujuan pembuatan storyboard ini
antara lain adalah untuk melihat apakah tata urutan peristiwa yang akan
divisualkan telah sesuai dengan garis ceritera (plot) maupun sekuens
belajarnya. Di samping itu juga untuk melihat apakah kesinambungan
(kontinuitas) arul ceriteranya sudah lancar. Storyboard juga dapat di
pergunakan sebagai moment-moment pengambilan (shots) menggantikan
apa yang lazim disebut "shooting breakdown". Bagi sebagian pembuat
film terkadang storyboar tidak dilakukan, cukup diakomodasi dalam
naskah atau skrip. Storboard ini terlebih diperlukan dalam pembuatan
media sound slide dan pembuatan film animasi.
4. Skrip atau naskah program.
Keterangan-keterangan yang didapat dari basil eksperimen coba-coba
dengan storyboard tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk skrip atau
naskah program menurut tata urutan yang dianggap sudah benar. Dalam
pembuatan program film maupun video, skrip atau naskah program irii
merupakan daftar rangkaian peristiwa yang akan dipaparkan gambar demi
gambar dan penuturan demi penuturan menuju tujuan perilaku belajar
yang ingin dicapai. Format penulisan skrip untukprogram film dan program
video pacta prinsipnya sarna, yaitu dalam bentuk skontro atau halaman
berkolom dua; sebelah kiri untuk menampilkan bentuk visualisasinya
dansebelah kanan untuk segal a sesuatu yang berhubungan dengan
suara termasuk dialog, narasi, musik maupun efek suara. Tujuan utama
suatu skrip atau naskah program adalah sebagai peta atau bal1an
pedoman bagi sutradara dalam mengendalikan penggarapan substansi
materi ke dalam suatu program. Karena itu skrip yang baik akan
dilengkapi dengan tujuan, sasaran, sinopsis, treatment. Yang terpenting
dalam sebuah storyboar termuat unsur video dan audio, memudahkan
bagi pemain, sutradara danka meramen dalam kegiatan latihan dan
persiapan shooting. Para pemain yang berperan dalam video tersebut
menghapalkan naskah dan dialog berdasarkan naskah.